Besarnya jumlah kertas yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia, memacu
industri kertas untuk meningkatkan produksinya. Hal ini mengakibatkan
timbulnya masalah berupa penebangan pohon untuk pembuatan kertas.
Winna
Eka Oktavia, Efa Fazriyah Haryono dan Marwah Zairah, siswa SMA
Malinping, Banten menemukan alternatif lain, yaitu dengan memanfaatkan
limbah jerami padi untuk bahan kertas.
Kepada VIVAnews, mereka
menyebutkan, Jerami dipilih karena mengandung kandungan selulosa yang
cukup besar, yaitu sekitar 39% sehingga dapat dimanfaatkan untuk
memproduksi enzim selulosa. “Jerami padi memiliki kandungan serat yang
cukup untuk dijadikan sebagai bahan kertas,” kata Winna Eka Oktavia.
Menurut
data BPS tahun 2006, Jerami padi merupakan limbah pertanian terbesar di
Indonesia. Dengan luas sawah di Indonesia adalah 11,9 juta hektar,
produksi per hektar sawah bisa mencapai 12-15 ton bahan kering setiap
kali panen, tergantung lokasi dan varietas tanaman.
Sejauh ini,
pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak baru mencapai 31-39%,
sedangkan yang dibakar atau dimanfaatkan sebagai pupuk 36-62%, dan
sekitar 7-16% digunakan untuk keperluan industri. “Jerami juga
mengandung lignin, selulosa,dan hemiselulosa,” kata Winna.
Winna
menjelaskan, proses pembuatan kertas anti rayap ini terdiri dari dua
tahapan. Pertama membuat bubur (pulp) kertas dari jerami. Proses diawali
dengan memotong dan merebus jerami dengan larutan NaoH, kemudian
digiling dan disaring hingga menjadi pulp basah.
“Setelah pulp dicetak, ia dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dalam suhu 100 derajat celcius,” kata Winna.
Selanjutnya,
di tahapan kedua, Pulp yang sudah dicetak ditetesi ekstrak daun sirsak.
“Proses ekstrak daun sirsak menggunakan cairan pelarut methanol. Daun
sirsak mengandung senyawa acetoginin yang dalam konsentrasi tinggi
berguna anti feedent yang membuat serangga tidak bergairah dan pada
konsentrasi rendah, dapat menjadi racun perut untuk serangga,” ucap
Winna.
Kertas hasil karya ini telah diuji dengan memasukkan
cetakan kertas ke dalam sebuah wadah yang penuh dengan rayap. “Dalam 10
hari, 55 ekor rayap yang kami taruh di sana, mati,” kata Winna.
Winna
mengklaim bahwa penemuan ini dapat menjadi alternatif untuk pembuatan
kertas yang biasanya menggunakan bahan dasar kayu pepohonan yang
akibatnya menyebabkan penggundulan hutan. “Kertas ini juga dapat
melindungi dokumen penting dari serangan rayap,” kata Winna yang
menceritakan bagaimana ijazah orang tua rekannya habis disantap rayap.
Winna
menceritakan, dalam menemukan karya ini, mereka banyak belajar dari
beberapa sumber di Internet. Dari sana mereka mengetahui bahwa ada
insektisida alami seperti daun sirsak, daun asam Jawa.
Jerih
payah mereka menuai hasil dengan menjadi salah satu kategori pemenang
lomba karya ilmiah remaja bidang LIPI 2011. Selama penelitian mereka
mengaku bolak-balik dari Lebak Banten ke Cibinong untuk menguji karya
mereka di Laboratorium Cibinong.
sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Response to "Siswa SMA di Banten Temukan Kertas Anti Rayap"
Posting Komentar
silahkan berkomentar sesuai dengan isi artikel.
yang tidak boleh ditulis ketika berkomentar
tulisan berbau SARA
SPAMMING
berkata jorok
berpromosi
jika hal tersebut ada dalam komentar anda saya akan langsung menghapusnya
terimakasih atas kunjungannya